Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen

TUGAS MATA KULIAH

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

 

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN INSOURCING DAN OUTSOURSING SERTA KONVERSI SISTEM INFORMASI DI SUATU ORGANISASI

  

OLEH:

David Timothy Mambu

NIM: P056134212.51E

ANGKATAN E51

 

DOSEN:

Dr.Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc

 

PROGRAM PASCASARJANA MANAJEMEN DAN BISNIS

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2015

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Pada era digital dewasa ini, perkembangan teknologi dalam dunia bisnis meningkat secara signifikan hampir diseluruh belahan bumi. Termasuk didalamnya adalah Indonesia, memasuki tahun 2015, masyarakat Indonesia akan menghadapi persaingan bebas yang disebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Menghadapi MEA, Indonesia harus mengembangkan dan meningkatkan sumber dayanya sehingga setiap organisasi dan perusahaan mempunyai kompetensi dan kinerja yang mampu bersaing. Kompetensi dan kinerja yang dapat dipenuhi adalah pengembangan/peningkatan teknologi yang saat ini sedang digunakan. Teknologi yang dimaksudkan adalah sistem informasi dalam kegiatan berorganisasi suatu perusahaan.

Pengembangan dan penerapan sistem informasi suatu perusahaan dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu: insourcing atau outsourcing serta dapat dilakukan dengan cara konversi sistem informasi.

 1.2. Rumusan Masalah

  • Menjelaskan apa yang dimaksud dengan sistem informasi.
  • Menjelaskan sistem informasi insourcing dan outsourcing.
  • Menjelaskan perbedaan sistem informasi insourcing dan outsourcing.
  • Menjelaskan kelebihan dan kekurangan sistem informasi insourcing dan outsourcing.
  • Menjelaskan bagaimana konversi sistem informasi dapat dilakukan.

 1.3. Batasan Masalah

Batasan masalah dari makalah adalah penyusun menjelaskan sistem informasi insourcing dan outsourcing serta keunggulan dan kelemahannya. Mejelaskan beberapa konversi sistem informasi yang dapat dilakukan suatu organisasi.

 1.4. Tujuan dan Manfaat

  • Mengetahui pengertian dari insoursing, outsourcing dan konversi sistem informasi serta perbedaannya.
  • Mengetahui manfaat yang diperoleh dari masing-masing pendekatan.
  • Mengetahui kelebihan dan kekurangan tiap-tiap pendekatan.

 1.5. Metode Penyusunan

Dalam makalah ini, informasi-informasi yang disusun penyusun menggunakan metode penulisan studi kepustakaan, yaitu penyusun membaca dan mengambil kumpulan-kumpulan artikel dari media elektronik yang berkaitan dengan makalah ini.

BAB II

PEMBAHASAN

 

 2.1. Sistem Informasi

Sistem informasi menurut Leitch dan RoscoeDavis dalam Jogiyanto (2005:18) dalam Setiabudi (2010) adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pegolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.

Saat ini perusahaan dituntut untuk melakukan pengembangan sistem informasinya dengan perencanaan yang baik dan didukung oleh sumber daya yang kompeten. Komponen-komponen yang terlibat adalah perusahaan, dimana perusahaan mengembangkan dan melakukan maintenance sistem informasinya menggunakan sumberdaya yang sudah mereka punya (insourcing). Komponen lain adalah perusahaan melibatkan pihak diluar organisasi mereka dan melimpahkan tanggung jawab dalam melakukan pengembangan dan pemeliharaan sistem informasinya sehingga perusahaan lebih terpusat dalam meningkatkan performa perusahaannya/ core competency (outsourcing).

2.2. Insourcing

Insourcing adalah metode pengembangan sistem informasi yang hanya melibatkan sumber daya di dalam suatu organisasi atau suatu perusahaan. Perusahaan memanfaatkan spesialis IT (Information Technology), EDP (Electronic Data Processing) atau IS (Informasi System) dalam perusahaannya sendiri. Pengembangan sistem ini umumnya dilakukan dengan menggunakan SDLC (Systems Development Life Cycle) atau daur hidup pengembangan sistem (Utomo,2014).

Menurut Utomo, 2014 ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan perusahaan bila menggunakan SDLC, yaitu:

  • Perusahaan sebaiknya membentuk rencana strategis dalam pengembangan sistem informasi.
  • Penentuan lingkup. Perusahaan menyusun dan memutuskan lingkup sistem yang akan dibangun.
  • Analisis, Perusahaan menganalis dan menentukan kebutuhan yang diperlukan oleh sistem.
  • Desain, Perusahaan dapat menyusun suatu sistem yang kemudian dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang ada yang diperoleh pada tahap analisis.
  • Implementasi, Perusahaan menyusun sistem dan infrastruktur untuk sistem.
  • Pemeliharaan, Perusahaan melalukan pemeliharaan untuk mendukung sistem yang sudah bejalan.

Anonim (2010) dan Utomo (2014) menuliskan keuntungan pengembangan sistem informasi yang menggunakan pendekatan insourcing, yaitu:

  • Perusahaan dapat mengontrol sistem informasinya sesuai dengan kebutuhan perusahaan karena tenaga ahli yang mengembangkan sistem tersebut memahami kebutuhan sistem dalam perusahaan.
  • Perusahaan secara langsung dapat mengontrol dan mengelola proses pengembangan sistem.
  • Pembuatan sistem dapat dikendalikan oleh user dalam perusahaan.
  • Sistem yang sudah ada dapat diintegrasikan dengan sistem baru yang sudah dikembangkan.
  • Sistem informasi yang sudah dikembangkan dapat langsung digunakan dan dapat diperbaiki untuk menyempurnakan sistem tersebut.
  • Informasi lebih lengkap dengan adanya dokumentasi.
  • Sistem yang dikembangkan sendiri mudah untuk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan.
  • Pemeliharaan dan proses pengembangan dapat dilakukan oleh karyawan perusahaannya sendiri karena semuanya dikembangankan oleh karyawan tersebut.
  • Dengan dikembangkannya sistem ini maka perusahaan mempunyai keunggulan tersendiri dan kompetitif.
  • Biaya untuk pekerja dalam perusahaan biasanya lebih kecil daripada biaya untuk pekerja outsource.
  • Adanya insentif bagi karyawan yang bertanggung jawab melakukan pengembangan sistem informasi.
  • Pengawasan (security access) dan keamanan data lebih mudah dan terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan saja.
  • Mengurangi biaya operasional perusahaan.

 Namun pendekatan insourcing juga memiliki kelemahan seperti (Anonim, 2010; Rhida, 2011; Syamriadi, 2014):

  • Perusahaan harus memperhatikan masalah investasi dari pengembangan sistem informasi.
  • Masalah waktu yang lama dalam pengembangan sistem.
  • Membutuhkan biaya yang besar dalam mengembangkan sistem tersebut.
  • Adanya kemungkinan program masih terdapat
  • Kesulitan dalam melakukan adaptasi karena perubahan teknologi informasi terjadi sangat cepat sehingga dikhawatirkan sistem informasi yang dikembangkan tidak up to date.
  • Adanya hambatan komunikasi antara user dengan pengembang dalam menyampaikan kebutuhan dan keinginan user.
  • Masih terbatasnya tenaga ahli dalam sistem informasi dan teknologi informasi, sehingga membutuhkan biaya tambahan untuk melakukan pelatihan.

 2.3. Outsourcing

Outsourcing adalah strategi perusahaan dengan melakukan penyerahan tugas atau operasional perusahaan atau pengerjaan proyek kepada pihak ketiga dengan menetapkan jangka waktu tertentu dan biaya tertentu dalam proses pengembangannya (Rhida, 2011).

Melalui pendekatan outsourcing perusahaan dapat membeli sistem informasi bisa berupa software yang sudah tersedia dan sudah dikembangkan oleh perusahaan dari pihak ketiga. Perusahaan dapat pula meminta perusahaan ketiga tersebut untuk memodifikasi sistem yang sudah ada sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau dapat meminta perusahaan ketiga untuk mengembangkan sistem informasi yang sebelumnya tidak ada sesuai permintaan perusahaan (Rhida, 2011).

Menurut Braz, et all (2001) dan Creencia (dipublikasi oleh Rlmal,2013)  menuliskan beberapa alasan perusahaan dapat menggunakan outsourcing:

  • Mampu mengurangi biaya internal perusahaan.
  • Perusahaan lebih terorganisir sehingga peningkatan fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan jasa tanpa harus memikirkan masalah pengembangan sistem informasi.
  • Secara finansial, investasi dalam capital asset dapat dikurangi.
  • Sebagai sebuah kebutuhan untuk memfasilitasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam perusahaan.
  • Perusahaan lebih fokus dalam melakukan perubahan dan perbaikan internal baik dalam performance, pengaturan dan kontrol perusahaan, dapat mengatur tingkat risiko yang dihadapi, mengembangkan ide-ide baru.
  • Mampu melakukan perluasan dan mendapatkan akses pasar yang lebih luas.
  • Menghindari menggunakan karyawan yang tidak kompeten. Namun menjadi motivasi bagi karyawan untuk belajar dan termotivasi.
  • Mendapat keuntungan ekonomi.
  • Mendapatkan akses pada teknologi terbaru dan tenaga yang ahli.
  • Dapat mengatur permintaan secara periodik.
  • Untuk menyediakan jasa yang lebih spesifik.

 Menggunakan outsourcing memiliki beberapa keuntungan tetapi juga memiliki beberapa kelemahan. Berikut ini adalah keuntungan yang dihadapi perusahaan yang menggunakan outsourcing (Jogiyanto, 2003 dalam Rhida, 2011):

  • Perusahaan dapat mengurangi biaya mahal yang dikhususkan untuk pengembangan sistem informasi karena sudah menyerahkan pengembangan sistem informasi kepada pihak ketiga dengan biaya yang lebih murah.
  • Perusahaan tidak perlu menunggu waktu yang lama karena pihak outsource sudah berpengalaman untuk mengembangkan sistem informasi yang dibutuhkan perusahaan.
  • Sistem informasi yang dikembangkan pihak ketiga lebih berkualitas dibandingkan sistem informasi yang dikerjakan secara internal perusahaan.
  • Pihak ketiga memiliki pengetahuan lebih dalam dibanding dengan pihak perusahaan,
  • Perusahaan tidak perlu melakukan transfer teknologi yang dimiliki pihak ketiga.
  • Perusahaan lebih fleksibel untuk berinvestasi atau tidak berinvestasi.
  • Mendapatkan resiko kegagalan investasi yang lebih rendah.
  • Perusahaan dapat lebih fokus dalam tujuan internal perusahaan.

Beberapa kelemahan yang dihadapi perusahaan yang menggunakan outsourcing (Pid, 2010; Utomo, 2014; Jogiyanto, 2003 dalam Rhida, 2011):

  • Resiko terjadinya pelanggaran kontrak oleh pihak ketiga yang merugikan perusahaan.
  • Bila terjadi gangguan pada sistem informasi, perusahaan tidak mempunyai kontrol untuk memperbaikinya.
  • Vendor dapat memberikan sistem informasi yang sama kepada perusahaan lain. Sehigga perusahaan lain tersebut dapat menirunya.
  • Perusahaan tidak dapat menguasai teknik sistem informasi tersebut untuk dikembangkan atau diperbaharui atau dimodifikasi sesuai dengan perkembangan informasi di masa datang karena teknik tersebut hanya diketahui oleh pihak ketiga.
  • Dalam beberapa kasus, perusahaan harus memberikan informasi penting kepada pihak ketiga untuk mengembangkan sistem informasi yang diinginkan. Hal ini sangat membahayakan perusahaan bila pihak ketiga membocorkannya kepada perusahaan lain.
  • Vendor umumnya menawarkan kontrak jangka panjang dengan biaya yang mahal dengan penalti pemutusan kontrok yang dapat merugikan perusahaan.
  • Adanya ketergantungan perusahaan dengan pihak ketiga.

Berdasarkan beberapa keuntungan dan kelemahan yang mungkin dihadapi oleh perusahaan, maka perusahaan sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut ini dalam memilih vendor (Ridho, 2014; Utomo,2014):

  • Memilih vendor yang berkualitas dan berkompeten dengan hati-hati.
  • Adanya perjanjian yang jelas dan komitmen dengan menandatangani kontrak sebagai pengikat tanggung jawab yang dapat dijadikan pegangan hukum untuk melanjutkan atu menghentikan proyek bila terjadi masalah saat proses pengembangan.
  • Syarat kontrak yang fleksibel dan jelas dan terstruktur.
  • Merancang perencanaan dan pengawasan dalam proses pengembangan agar hasil yang diperoleh benar-benar bermanfaat.
  • Membangun komunikasi yang baik antara perusahaan dan vendor agar bila terjadi permasalahan dan hambatan dapat diselesaikan dengan cepat.
  • Harga yang sesuai dan melakukan pembayaran sesuai dengan tingkat penyelesaian proyek.

 2.4. Konversi Sistem Informasi

Menghadapi perubahan teknologi dan sistem informasi yang cepat, perusahaan terkadang melakukan konversi untuk mengganti sistem informasi yang mereka gunakan yang mana terdapat resiko kegagalan saat pergantian sistem tersebut.

 Mengatasi permasalahan tersebut maka dikembangkan 4 metode konversi yang dapat diterapkan untuk mendukung tingkat keberhasilan proses perubahan sistem tersebut (Baltzan & Phillips,2008 dan Stair & Reynolds, 2008 dalam Mallach diedit oleh Gunasekaran, 2009; Cga-Pdnet, 2010). 4 metode tersebut adalah:

  • Konversi langsung (Direct Cutover).
  • Konversi paralel (Parallel Conversion).
  • Konversi bertahap (Phased (Modular) Conversion).
  • Konversi pilot (Pilot Conversion).

 2.5. Konversi Langsung

Perusahaan secara keseluruhan menghentikan penggunaan sistem lama dengan menggunakan sistem terbaru serta mengaplikasikannya keseluruh sistem yang ada di dalam perusahaan tersebut.

 Keuntungan metode ini adalah  perusahaan akan mengeluarkan biaya yang sangat sedikit dibanding dengan metode lainnya dengan waktu proses paling singkat. Aplikasi metode ini dilakukan bila sistem lama tidak lagi kompatibel dengan sistem terbaru seturut dengan perkembangan teknologi Proses instalasi ini memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan karena proses berlangsung cepat.

 Kelemahan dari metode konversi langsung adalah metode dengan tingkat resiko tertinggi. Saat proses berlangsung, tidak ada cara untuk kembali pada sistem semula. Dampak tertinggi yang dapat terjadi adalah terjadi error dan kegagalan saat proses berlangsung.

 (Cga-Pdnet,2010)

 2.6. Konversi Paralel

Konversi ini diterapkan saat sistem baru diperkenalkan diaplikasikan saat sistem lama masih digunakan. Kedua sistem akan beroperasi bersamaan, proses dan hasil dari kedua sistem akan dikumpulkan untuk dibandingkan/validasi. Selama proses validasi sistem baru dengan sistem yang lama bila memberikan hasil yang sama dan beroperasi dengan baik, maka sistem yang lama dapat dinonaktifkan (Baltzan & Phillips,2008 dan Stair & Reynolds, 2008 dalam Mallach diedit oleh Gunasekaran, 2009).

 Keuntungan konversi paralel adalah metode dengan resiko paling rendah karena rendahnya resiko kegagalan operasional dan proses data karena sistem lama masih tetap digunakan. Metode ini sangat baik diaplikasikan untuk sistem yang kecil yang menggunakan infrastruktur yang sudah ada karena biaya yang digunakan tidak terlalu besar (Cga-Pdnet,2010).

Kelemahan yang merupakan tantangan perusahaan adalah metode ini membutuhkan biaya yang besar berkaitan penanganan kedua sistem yang beroperasi secara bersamaan tersebut. Kesulitan lainnya adalah beberapa users belum terbiasa dan belum menguasai sistem baru sehingga mereka masih menggunakan sistem lama dan tidak menggunakan sistem yang baru, sehingga manfaat sistem yang baru tidak dapat digunakan maksimal. Metode ini kurang baik bila diaplikasikan untuk sistem yang kompleks karena membutuhkan biaya yang besar (Cga-Pdnet,2010).

2.7. Konversi Bertahap

Pada metode ini, hanya sebagian saja dari sistem informasi baru yang diintroduksi sedangkan sebagian besar dari sistem lama masih digunakan. Sistem informasi yang baru tersebut dipisah-pisah menjadi komponen fungsi yang lebih kecil yang nantinya dapat digunakan dalam skala besar. Konversi ini dilakukan secara bertahap dan meningkat. Konversi ini lebih mudah untuk di awasi dibanding konversi yang sudah dijelaskan sebelumnya. Resiko pada konversi ini rendah, Proses pada konversi ini lambat namun pasti hingga akhirnya sistem informasi yang baru dapat digunakan sepenuhnya. Konversi ini juga meminimalisasikan potensi error dengan harga yang lebih rendah bila terjadi kegagalan sistem (Baltzan & Phillips,2008 dan Stair & Reynolds, 2008 dalam Mallach diedit oleh Gunasekaran, 2009; Cga-Pdnet,2010).

 Konversi ini dapat bekerja dengan baik pada sistem baru yang dibangun atau dikembangkan dari sistem yang sudah ada atau dilakukan upgrade sistem lama. Penanganan terhadap risiko dan biaya lebih mudah bila dilakukan dalam jangka pendek dan harus dilakukan secara terus menerus. Hingga pada waktunya semua komponen sudah diaplikasikan dan merubah semua sistem lama menjadi sistem yang baru (Cga-Pdnet,2010).

 Namun sistem ini memiliki kelemahan karena membutuhkan waktu yang lama dalam proses konversinya. Sistem yang baru dan yang lama harus berfungsi bersamaan tanpa ada masalah dimana perlu adanya pengembangan program tambahan (Cga-Pdnet,2010).

 2.8. Konversi Pilot

Dalam konversi pilot, sistem yang baru diintroduksi dalam bentuk unit tunggal atau diaplikasikan pada satu lokasi saja selama periode yang sudah ditentukan sebelum diinstal seluruhnya (Cga-Pdnet,2010).

Pada konversi ini, perusahaan dapat melakukan kontrol dan uji coba pada sistem yang baru. Konversi ini dapat membatasi jumlah gangguan dan kerusakan yang mungkin diakibatkan oleh sistem yang baru. Karena sistem baru hanya diaplikasikan pada satu situs atau departemen, perusahaan dapat menggunakannya dan dapat mempelajari secara detil dan mempelajari masalah-masalah yang mungkin terjadi sebelum keseluruhan sistem baru digunakan. Bila koversi ini berhasil, hal ini bermanfaat untuk mengatasi user yang mengalami kesulitan beradaptasi terhadap sistem baru dan perusahaan dapat mengenalkan sistem baru ini keseluruh sistem perusahaan. Dengan konversi ini perusahaan dapat memutuskan apakah akan melanjutkan atau menghentikan sistem baru tersebut (Cga-Pdnet,2010).

 Hal kritis yang harus diperhatikan dalam konversi ini adalah selektifitas perusahaan dalam mengaplikasikan sistem baru tersebut ditempatkan. Jika perusahaan mengaplikasikannya pada bagian yang lebih mudah dengan segala kondisi yang mendukung, perusahaan dapat menghindari masalah-masalah yang potensial demikian juga sebaliknya, perusahaan akan mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan sistem baru bila menempatkannya pada bagian yang sulit. Konversi ini dapat bekerja dengan baik bila terdapat beberapa ketidakpastian berkaitan dengan bagaimana nantinya sistem baru tersebut akan bekerja dan saat timbul masalah (Cga-Pdnet,2010).

 Kelemahan konversi ini adalah dapat menimbulkan beban tambahan bagi staff IT dalam pemeliharaan kedua sistem yang berbeda dimana kedua sistem tersebut kemungkinan terkadang tidak terkoneksi (Cga-Pdnet,2010).

 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

 3.1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, maka dalam penentuan dan pengambilan keputusan sistem informasi yang akan digunakan serta metode konversi yang akan digunakan dilihat dari kelebihan dan kelemahannya semuanya tergantung dari kebutuhan perusahaan, visi dan misi yang hendak dicapai, sumber daya yang mendukung dan dana.

 Masing-masing sistem informasi dan konversi sistem informasi yang akan diterapkan memiliki kelebihan dan kelemahannya.

 3.2. Saran

Penerapan sistem informasi dan konversi sebaiknya memperhatikan kondisi perusahaan. Bagi perusahaan yang tidak terlalu besar dengan jumlah karyawan yang tidak terlalu banyak, sebaiknya menggunakan sistem outsourcing, sebaliknya bila perusahaan tersebut adalah perusahaan besar dengan jumlah karyawan yang banyak, sebaiknya menerapkan sistem insoursing.

Bila perusahaan akan mengkonversi sistem informasi yang lama menjadi sistem yang baru, sebaiknya memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan perusahaan, dana yang ada serta selektif dalam memilih metode yang tepat untuk mengkonversi sistem informasinya.

 

 

PUSTAKA

Braz, Meredith, et all.2001. Outsourcing in Higher Education.http://aramarkhighered.org/assets/docs/outsourcing/AACRAO%20Outsourcing.pdf. Diakses pada tanggal 2 Januari 2015.

Cga-pdnet.2011.Module 5: Systems Implementation, Testing, and Support. http://www.cga-pdnet.org/Non_VerifiableProducts/CourseNotes/2010/ms2/module05.pdf.Diakses pada tanggal 3 Januari 2015.

Creencia, Ninna Ricci L,__,Strategic Outsourcing. Dipublikasi oleh Rlmal, Binod.2013. http://www.scribd.com/doc/161396038/Strategic-Outsourcing. Diakses pada tanggal 3 Januari 2015

Mallach, Efrem L edited by Gunasekaran,2009.Information System Conversion Strategies: A Unified View.http://www.irma-international.org/viewtitle/3950/.Diakses pada tanggal 3 Januari 2015.

Pid.2010.Self Sourcing, In sourcing and Out Sourcing.http://pakpid.wordpress.com/2010/01/05/self-sourcing-in-sourcing-and-out-sourcing/. Diakses pada tanggal 2 Januari 2015.

Rhida.2011.Penerapan Outsourcing pada Sistem Informasi.http://diary-rhida.blogspot.com/2011/01/penerapan-outsourcing-pada-sistem.html. Diakses pada tanggal 2 Januari 2015.

Ridho, Muhammad.2014.Metode JAD (Joint Application Development).http://elearning.unsri.ac.id/mod/forum/discuss.php?d=1761&parent=14556. Diakses pada tanggal 2 Januari 2015.

Setiabudi, Arifin.2010.Pengertian Sistem Informasi.http://www.ilmumanajemen.com/index.php?option=com_content&view=article&id=55:psi&catid=39:msi&Itemid=57. Diakses pada tanggal 2 Januari 2015.

Syamriadi.2014.Pengembangan Sistem Informasi Outsourcing dan Insourcing pada Sebuah Perusahaan Perbankan.http://yogi49e.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2014/01/30/tugas-individu-sistem-informasi-manajemen-pengembangan-sistem-informasi-outsourcing-dan-insourcing-pada-sebuah-perusahaan-perbankan-dosen-dr-ir-arif-imam-suroso-msccs-disusun-oleh/. Diakses pada tanggal 2 Januari 2015.

Utomo.2014.http://bobit48e.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2014/02/07/penerapan-insourcing-outsourcing-dan-co-sourcing-dalam-pengelolaan-sistem-informasi-di-perusahaan/ .Diakses pada tanggal 2 Januari 2015.


Posted in Uncategorized by with comments disabled.
Skip to toolbar